370hari

Aku tidak ingin hadir sebagai seorang yang singgah. Sementara

lalu kembali bermuara dengan kapal lain. Menciptakan

kau hadir itu sulit. Menemukan

kau itu butuh waktu tak singkat. Bagiku,

kau adalah satu. Nafas

yang tak pernah berhenti untuk hidup. Sebuah

puisi yang tak pernah mati.


Senin malam,
Desember 25, 2017

Meraba Senja

Aku meraba pada senja.
pada kuning yang lahir terakhir.
redup,
redup,
lalu tenggelam.

Aku mengecap pada sore.
pada pukul delapan belas lewat tujuh.
berdetak,
berdetik,
lalu berganti.

Aku hidup pada kau.
pada sesuatu yang ku sebut rumah.
teduh,
jatuh,
lalu menua.

Entah

Entah mana yang lebih dulu,
kematianku atau kehilanganmu.
aku tidak peduli,
aku hanya ingin menikmati detik yang berdetak.
menikmati hari esok dengan pesan singkatmu,
dengan nasi goreng dijam sebelas malam,
atau dengan sedikit pelukan hangat dihari yang gigil.

Entah mana yang lebih dulu
kematianku atau kehilanganmu.
aku tidak peduli.
pun kalau kau hilang, kau masih berkuasa penuh.
hati ini mempunyai pintu, kuncinya hanya satu, kini ada padamu.
singgahlah, tutup rapat pintunya, simpan kuncinya dalam sakumu.
jika kau tak nyaman, coba bertahan sebentar.
akan ku perbaiki yang rusak.

istirahatlah, menepilah.
tak perlu takut,
akan ku temani, sampai waktu singgahmu selesai.

Jakarta,
Selasa sore. July 11, 2017

Angin Desember

Aku hidup bersama puisi-puisi yang kuciptakan dengan tangan dan angan.
Bersama irama sendu dan malam kelabu.
Kepalaku ramai dengan kata-kata.
Mereka menggali lubang-lubang di otak kananku.
Berdiam dan menciptakan sarang sebelum lahir menjadi sebuah kalimat di buku harianku dengan tinta biru.

Namun, sudah lebih dari sewindu puisiku berdebu.
Kata berhenti menciptakan sarang, kepalaku sepi, puisiku halu.

Sampai pada tahun yang akhir, angin desember memberi salam.
Menghantarkan kau, tuan bermata teduh.
Bagaimana bisa kau beri nafas pada sesuatu yang mati?
Bagaimana bisa kau lebih hidup dari puisi?

Jakarta,
Selasa sore. Jul 11, 2017

Mata Seorang Lelaki

Ada telaga disebelah kanan matamu.
Tempat teduh saat sendu bertandang.
Juga dimata kirimu, ada rumah tempat ku pulang.

Sekali-kali aku tak mengerti mana yang lebih indah,
senja di minggu sore. atau,
mata yang terpasang sempurna di parasmu.

Puisi ku sekali-kali ia juga tak paham mengapa penulisnya menuliskan sajak tentang mata seorang lelaki sebrang.

Kepada Tuan

Tiap kali malam datang,
ku temui sebuah pejam.
aku melihat sepasang bola mata telanjang
lebih indah dari kembang gugur musim semi.

Kala pagi menyambut,
ku temui sebuah cahaya.
aku mendengar sebuah kata
lebih sejuk dari embun yang jatuh dari bibir daun.

ku sebut itu kau, tuan

Tuan, perkenalkan aku adalah hawa yang setia.
mencintaimu sepanjang usia tuhan.

Trauma

"You put a bad memories in my head and since then, i haven't trusted men"

-your daughter

Hal Yang Paling Sulit Dimasa ini; Bersyukur

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan banyak manusia adalah bersyukur, pun begitu saya. Di zaman-yang apa-apa harus diposting- ini membuat manusia terlalu sibuk memikirkan hidup manusia lain dan sibuk menjadi manusia lain itu sendiri. Tapi, Allah selalu memberikan pelajaran kepada saya juga kamu untuk selalu bersyukur. Seperti yang saya alami;

1.
Setahun terakhir sudah ada tiga keluarga yang menempati rumah itu; dua rumah setelah rumah saya. Entah dengan alasan apa orang-orang suka berpindah kemanapun yang ia sukai, apa mereka susah menemukan kenyamanan?. Entah lah, bukan itu yang ingin saya bahas. Saya ingin membahas keluarga ketiga yang menempati rumah itu.

Sudah 4 bulan mereka menempati rumah kontrakan itu yang hanya mempunyai 2 ruang; untuk tidur dan mandi. Mereka perempuan; seorang bertugas menjadi ibu sekaligus ayah, lalu dua orang perempuan dewasa; anak sang ibu. Saya bukanlah orang yang pandai berbasa-basi, sesekali saya sapa mereka, sesekali tidak. Sampai kemarin siang saya tidak tahu nama mereka.

Setiap kali saya mau pergi bekerja, ataupun keluar rumah, pasti selalu melewati rumah itu. Desember lalu, sudah dua minggu saya melihat pintu rumah itu tertutup rapat dan gelap. Fikir saya, mungkin mereka sedang merayakan natal, karna mereka seorang nasrani. Saat itu saya sangat tidak peduli kemana mereka pergi, toh itu bukan urusan saya.

Hari itu; awal Januari, saya kembali bekerja, seperti biasa ditemani dengan Brown-motor matic saya. Rumah itu terlihat sudah berpenghuni, pintunya terbuka. Seorang perempuan sedang duduk dibangku plastik berwarna merah. Wajahnya pucat agak bengkak, matanya memandang kosong kearah matahari yang menyengat hangat, kepalanya gundul dan ada bekas jaitan sekitar 10-15 cm dibagian kiri. Terakhir, saya melihat perempuan-yang namanya baru saya tahu kemarin sore, Devi- itu masih dengan rambut panjangnya dan sehat.

Betapa terkejutnya saya ketika saya tanyakan kepada ibu saya ternyata perempuan itu mengidap kanker otak.

Kanker; penyakit yang membuat manusia menyerahkan hidupnya pada ke-putus-asa-an dan ke-mati-an. Tapi saya tidak melihat hal itu dimatanya. Dia mempunyai hati yang kuat.

Percayalah, kamu juga.

2.
Kabar berikutnya datang dari beberapa orang yang saya temui dijalan, para pedangang asongan misalnya, mereka memiliki kaki yang kuat untuk lari ketika ada petugas Pol-PP yang datang. Apakah di Indonesia, berdagang termasuk tindak kriminal?.

Lalu, ibu-ibu diusia 80 tahun masih menjual air mineral botol di depan kantor saya demi mengisi perutnya yang lapar. Para anak kecil yang berkelahi dengan bisingnya bis kota demi mimpi mempunyai sepeda dan sepatu baru.

Atau sekumpulan kupu-kupu malam yang menunggu lelaki berdasi untuk menjamahnya kemudian memberikan uang demi bertahan hidup dan berkecukupan.

. . .

Lihatlah, betapa beruntungnya saya dan kalian yang sampai saat ini masih bisa bernafas dengan bebas dan memiliki hidup lebih beruntung dari mereka.

And the lessons that we can learn is. . .

Kebahagiaan bukan tentang memiliki apa yang kamu inginkan, kekayaan, juga fisik yang sempurna. Bahagia adalah pilihan. Apakah kita mau percaya atau tidak, kita lah yang bertanggung jawab akan kebahagiaan kita sendiri. Saya telah bertemu dengan banyak orang yang memiliki hak untuk merasa tertekan atau marah tentang kehidupan yang mereka alami tapi mereka memilih untuk bahagia. Mereka memilih untuk melihat apa yang mereka punya bukan apa yang orang lain miliki. Kamu bisa menjalani hidup mu dengan baik dengan bersyukur atau dengan mulai menghargai apapun yang ada dihidup kamu sebelum mereka hilang. Untuk membuat bahagia menjadi pilihan, kamu bisa lakukan setiap saat, kapanpun. Mungkin akan ada hari-hari sulit daripada hari-hari sebelumnya, namun jika kamu melihatnya dengan jelas kamu akan menemukan cahaya bahkan dalam kegelapan sekalipun, dan kamu akan tersadar bahwa kamu lebih besar daripada malam dan segala ketakutan yang ada. :)

Jakarta, 27 Februari 2017

Katanya

Pembicaraan hangat ini terjadi ketika semua manusia sedang diserang hujan dan kondisi politik yang rumit, secara terus-menerus, sekaligus.
Be your self. Jangan jadi orang lain. Tetep jadi diri sendiri. Karna jadi diri sendiri itu baik.
Ucap lelaki yang baru saja mau mandi pagi pada pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit.


Jakarta, 21 Februari 2017
Waktu bagian baper dan laper.

(Puisi) Hujan Malam Rabu



Kala ribuan hujan mengusik langit yang tenang.
Ia jatuh pada jalan-jalan dan tubuh-tubuh.
Tubuhku,
Tubuhmu.
Kita berteduh pada dinding-dinding basah.
Hujan membuat kita kuyup, dari ujung kaki hingga ujung tubuh lainnya.
Namun matamu membuat hangat dari segala dingin yang merasuk.
Kala malam hadir sebagai sendu.
Tak ada lagi yang tabu.
Termasuk memelukmu.
Kala senja melengkung murung tertutup mendung yang menderu,
Angin menghembuskan gigil yang merdu.
Pada hujan malam rabu, aku tak ingin ia cepat berlalu.
Biarkan tubuhku merasa hangat pada peluk yang terakhir sebelum waktu membangunkan kita untuk pulang dan kembali merindu.


Jakarta,
14 Februari 2017

Menanti . . .

Dimana-mana manusia selalu benci menanti. Namun, nyatanya pekerjaan yang benar-benar manusia lakukan adalah menanti. Dan apa yang kamu lakukan itu membosankan. Menyakitkan. Bersabarlah.

Sekarang pukul sembilan belas lewat satu menit. Saya masih duduk dikursi putar warna kuning di sebuah gedung tempat dimana saya dan manusia-manusia lain mencari uang. Saya bosan. Dan saya masih menunggu kabarmu. Saya harap kamu tidak lupa bahwa ada saya yang selalu menunggu kabarmu dan memastikan kamu baik-baik saja. nggak lupa kan, sayang?

Ahhh, kamu selalu begini dan saya akan selalu mengerti.

Menulislah

.    .    .

Menulislah ketika hujan.

Menulislah ketika matahari bersinar.

Menulislah di atas meja kerja mu ketika kertas-kertas menumpuk.

Menulislah di buku tua mu sampai kamu tidak pernah membacanya lagi

Menulislah ketika air mata mu tidak bisa jatuh.

Menulislah ketika masalah sedang menyerangmu dengan hebat.

Menulislah  ketika rindu tertahan.

Menulislah ketika kamu sedang merasa, tapi kamu sedang berenang dalam kekosongan.

Menulislah ketika jari-jari mu sedang jatuh dalam kelelahan

Menulislah ketika kamu menemukan rambut abu-abu mu pertama kali.

Menulislah ketika kamu sedang terjebak dalam kesendirian.

Menulislah ketika kamu dikelilingi banyak manusia, tapi kamu merasa sepi.

Menulis, Menulis, Menulis.

Menulislah karna gratis.

Menulislah karna kamu bisa jadi apa saja ketika menulis.

Menulislah dengan tinta-tinta dan kertas-kertas atau dengan keringat mu, darah mu, nafas mu ketika kau menguap di depan cermin.

Menulislah sehingga tidak ada yang bisa mengerti, bahkan juga dirimu.

Menulislah untuk bersuara, karna dunia butuh mendengar itu.

Tidak hanya mendengar, tapi dibaca; oleh anak mu, orang yang mencintaimu, orang yang kamu cintai tapi ia tidak tahu akan hal itu, dan mengenal dirimu, hidupmu, hatimu, indahmu.

.    .    .

12 Hal Yang Saya Dapatkan Dari Umak (baca:ibu/mama)


  1. Apapun yang sedang kamu rasakan. Bertahan lah dengan itu.
  2. Hadap lah Tuhan ketika masalah meledak.
  3. Kamu tidak perlu menjadi apapun dan siapapun untuk saya cintai. Saya akan mencintai mu bahkan  lebih ketika kamu gagal.
  4. Tidak semua pria seperti bapak mu.
  5. Belajar lah untuk menghargai orang-orang baik.
  6. Keluarga adalah syarat yang cukup untuk bahagia.
  7. Kamu tidak perlu menurunkan berat badan untuk menjadi cantik.
  8. Jangan pernah meragukan diri sendiri dan jangan biarkan orang lain membuat kamu kehilangan jati diri.
  9. Ini adalah hidup kamu dan saya akan berada disana ketika kamu butuh saya.
  10. Tidak semua manusia bisa dijadikan sahabat.
  11. Berbuat baiklah kepada siapa pun terlebih yang membenci mu.
  12. Bekerja keras lah jika ingin mencapai sesuatu.


Dan kemudian saya belajar banyak hal untuk menghargai apapun dan memberikan yang terbaik, dan cinta seorang ibu adalah lebih dari cukup untuk bertahan hidup. dan saya mencintainya tanpa syarat.

Rindu...

Pagi ini dingin kembali mendekap kota yang bising..

Seperti biasa aku melakukan rutinitas yang membosankan, mandi pagi, berangkat kerja, dan kembali menahan rindu. Lagi-lagi aku berpura-pura sibuk mengerjakan sesuatu agar terlihat baik dihadapan atasan.

Siang ini, aku masih duduk manis dengan sepiring nasi dihadapanku. Ada telur, kol hijau dan potongan kentang yang sedang menunggu untuk ku makan. Kebutuhan manusia akan makanan, bagai jasad yang membutuhkan ruh, tak bisa menjadi sempurna jika salah satunya hilang.

Aku fikir rindu bisa terasa lebih ringan di zaman yang serba canggih ini. Nyatanya smartphone tidak membuat segalanya lebih mudah. Dan kurangajar! lagi-lagi matamu kembali hadir dilayar komputer kerja ku.

Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
Walau kadang rumit dan membingungkan
Ia mengajari saya cara mengarang ilmu
Sehingga saya tahu

Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila
Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Bahasa Indonesiaku yang gundah
Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat

Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat
Ketika induk kalimat bilang pulang
Anak kalimat paham
Bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
Ruang penuh raung

Segala kenang tertidur di dalam kening
Ketika akhirnya matamu mati
Kita sudah menjadi kalimat tunggal
Yang ingin tinggal
Dan berharap tak ada yang bakal tanggal

Karya : Joko Pinurbo

Akhir Desember Di Meja Kerja.

Saya bosan dengan rutinitas ini, dengarkan :

1.
Tidak pernah kurang dari jam dua belas malam saya tidur. Setelah itu bangun di waktu subuh lewat setengah jam dan menunaikan kewajiban kepada Tuhan. Jika malas sedang bertamu, saya melanjutkan mimpi saya.

2.
Memutuskan bangun dari tidur kedua dan bergegas mandi adalah hal yang paling berat. Lalu saya terpaksa mandi, mandi seperti manusia biasa. Me-nyabun-kan tubuh saya dan menggosok gigi. Selepas itu saya angkat kaki dari rumah petak milik perempuan yang saya sebut Ibu. Pastinya saya sudah berpakaian dan bersepatu hak yang ketinggian. Tidak lupa gincu dan polesan bedak.

3.
Saya selalu berangkat bersama Brown. Saya berikan sarapan terlebih dulu supaya tidak seperti yang dilakukan perempuan saat melihat kekasihnya dengan wanita lain-ngambek-. Brown itu laki-laki. Warnanya hitam, tapi saya suka memanggilnya Brown. Brown itu motor matic saya yang akan lunas sembilan bulan lagi.

4.
Setelah itu saya menghabiskan waktu di kursi putar berwarna kuning dan mata saya kurang lebih delapan jam menatap layar komputer tanpa kedip, sama seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Lalu, saya tidak benar-benar kerja. Saya hanya berpura-pura kerja, agar diberikan rupiah diakhir bulan.

5.
Yang benar-benar saya lakukan hanya sibuk mencintai kamu. Setiap harinya, tidak kurang dari itu. 

(Puisi) Sore Sendu

Ini sajak tentang perbedaan 
Antara seorang aku dan kau seorang 
Lihatlah kita,
Melangkah tertita-tita
Jembatan ini, sulit ku lintasi.
Ada yang aneh di dasar sini.
Sanubari yang merongrong sepi.

Tak kah kau lihat, sayang?
Akar-akar ketakutan ini,
Menjalar penuh dari kaki hingga hati.
Menyeruak, mengelupas relung kalbu yang semu.

Penuh duri.
Bagai kaktus di padang tandus.
Ahh... cinta, 
Selalu saja rumit.

(Cerita Pendek) When To Let It Go Better Than Have



Malam ini udara begitu sejuk, sepertinya saat yang tepat untuk membuka kembali memori lama ditemani dengan secangkir kopi. 

Kenangan itu ibarat hujan yang turun, meski basah dibuatnya, namun kehadirannya selalu mempunyai ruang istimewa.

1. Waktu sudah menjelang pagi.  Ketika semua sudah bermain bersama mimpinya, gue lagi-lagi nggak bisa tidur dengan nyenyak, dia hadir lagi.

2. Entah cerita ini tragis atau nggak yang jelas nama gue Seno dan dia Nanda. Sejak dua ribu lima belas lalu gue putuskan untuk menobatkan dia sebagai pacar gue.

3. Nanda, cewek yang suka selfie, aktif, bawel, dan bisa buat gue berenti ngerokok. Dia baik. Satu lagi dia cantik.

4. Awalnya, gue kenal Nanda dari mantan gue Putri. Yaa…mungkin untuk sebagian orang agak aneh kalo gue minta cariin pacar sama mantan sendiri hahaha. Tapi emang gitu kenyataannya, gue masih berhubungan baik sama semua mantan.

5. Usia gue yang udah masuk seperempat abad adalah usia yang cukup untuk menjalani sebuah hubungan yang serius. Dan Nanda, adalah tujuan gue.

6. Masalah orang tua, itu perihal mudah. Orang tua kami sudah saling mengenal. Ibunya Nanda sering jahit baju dirumah gue. Ya, ibu gue yang buka jasa menjahit.

7. Gue udah bicarain hal ini sama nyokap, nyokap gue- amat-sangat-menerima Nanda sebagai calon menantu. Begitu juga sebaliknya, dan Nandanya juga.

8. Waktu itu minggu sore. Gue dan Nanda duduk di balkon atas rumah. Nanda keliatan cantik banget waktu itu, rambutnya sengaja diurai. Pake baju favoritnya warna biru. Asli, ini moment yang pas fikir gue.

9. Segelas kopi dan teh manis hangat yang gulanya nggak lebih dari setengah sendok teh,  selalu jadi ritual khusus gue sama Nanda kalo lagi hujan. Bener-bener perfect.

10.  “Nda, aku mau ngomong sama kamu.” 

“Apa no, ngomong aja, aku selalu dengerin.”

“Kita udah sama-sama dewasa, aku udah bener-bener mau serius sama kamu, tahun depan aku rasa waktu yang cukup buat aku ngelamar kamu."

Seketika mata indahnya Nanda menatap ke mata gue, dan angin seolah-olah sengaja membuat rambutnya menari bebas. Aahh…..cantik banget lu nda.

“Iya no, aku bakal tunggu kamu.”

11. Jawaban Nanda emang singkat. Tapi terlebih dari itu, gue bahagia. Setelah hari dimana gue ungkapin keseriusan gue ke Nanda, gue menjalani aktifitas seperti biasa. Jemput Nanda kerja, jalan sama Nanda, nonton bioskop, pokoknya gue sayang Nanda.

12. Nanda itu gila foto banget, dia pernah ajak gue jalan ke bioskop, setelah sampe ke bioskop, dia cuma mau foto didepan banner film yang lagi booming waktu itu hahhaha.

13. Gue mulai mencari gedung yang bisa gue sewa untuk pernikahan gue nanti. Catheringnya juga udah gue hubungin. Gue harus persiapin dari jauh hari. Nyokap gue dan calon mertua gue (ibunya Nanda) juga udah sepakat, kalo pestanya nanti nggak perlu mewah-mewah, yang penting sah.

15. Hari demi hari gue lalui. Usia pacaran gue sama Nanda udah masuk satu tahun enam bulan. Dua ribu tujuh belas tinggal enam bulan lagi. Waktu cepet banget berlalu, tapi nggak tau kenapa nanda berubah, lebih sensitif, dikit-dikit ngambek, sikapnya dingin. Dan gue coba ngerti.

16. Sore itu seperti biasa gue ajak jalan Nanda. Lagi-lagi hujan menemani. Gue mulai bahas sikap dinginnya Nanda. Nanda marah, nggak terima. Gue emosi.

17. “Kamu kenapa sih, jadi begini, over tau nggak!” 

“Harusnya aku yang nanya kamu nda, kamu kenapa? sikap kamu dingin.”

“Dingin kenapa sih, salah mulu aku!”

“Kamu berubah nda, kamu sensitif.”

“Terserah lo no!”

Emosi gue meledak, helm yang ada ditangan gue banting. Nyokap gue langsung  samperin gue dan Nanda. Gue tinggalin Nanda sama nyokap. Gue pergi ke warung dan gue beli rokok.

18. Nanda benci banget ngeliat gue ngerokok, gue sengaja ngerokok depan dia.
“Kamu kenapa ngerokok lagi!”

“Kenapa emang, masalah buat kamu? Ini semua gara-gara lo!”

“Kok lo kasar sih, terserah lu lah”

Gue cuma diem dan ngeliat dia balik. Gue stress.

19. Gue udah nganterin Nanda sampe rumahnya. Semarah-marahnya gue, gue paling nggak bisa liat cewe balik sendiri. Gue coba renungin semua. Ada apa dengan hari ini.

20. Masih di balkon rumah gue, dan kali ini gue cuma ditemenin sama rokok yang tinggal setengah batang, dan sisa kopi tadi. Nyokap yang melihat kejadian tadi, langsung samperin gue.

“Kamu ada apa sama Nanda? Baru kali ini mama denger kamu berantem sampe kayak gitu’”

“Gapapa mah, Cuma salah paham.”

“Mama coba ngobrol sama Nanda, Nanda nggak baik buat kamu, kata-katanya kasar sama mama tadi. Tapi terserah kamu, baik buruknya kamu yang jalanin, mama cuma gamau kamu sampe salah pilih.”

“Kasar? Nanda ngomong apa sama mama?”

Gue tersentak kaget denger omongan nyokap. Sampai saat ini gue gatau apa yang udah Nanda omongin. Nyokap langsung pergi gitu aja dari tempat duduknya, tanpa menjelaskan. Gue ngerasa malu banget sama nyokap, dia jadi ikut-ikut mikirin hubungan gue.

21. Gue liat hape,dan ternyata ada pesan masuk dari Nanda. Yaa… bener banget. Feeling gue tepat. Dia mau udahin hubungan ini. Dia mau menyendiri. Dia bilang gue over, gue nggak ngerti.

22. Sepertinya emang hubungan gue harus diakhiri sampe sini. Niat baik yang udah gue sampein ke dia, dan nyokapnya, hanya mimpi belaka, dan sekejap sirna. Gue bukan tipe cowo yang ngemis-ngemis cinta ke pasangan. Menurut gue, kalo emang pasangan udah ucapin kata putus, tandanya dia emang udah ngusir kita dari hidup dia. So, life must go on. Hidup nggak melulu tentang pacar. Semoga dia bahagia.

23. Entah akan ada Nanda-nanda lain diluar sana atau nggak, gue nggak peduli. Yang jelas, gue mau sendiri dulu dan kelarin kuliah gue. Sampai tiba saatnya Tuhan mengirimkan tulang rusuk yang harus gue sempurnakan.

(Cerita Pendek) Dunia ku Runtuh..



Januari, Dua ribu tiga belas...

1. Siang itu, matahari seakan ingin menunjukkan cahayanya. Suasana kelas yang berisik menambah kepanasan tersendiri. Hari ini sedang ada ujian akhir semester, dan aku duduk bersama anak kelas 12 di baris ke 4 meja nomor tiga. Sepertinya, masih teringat jelas kejadian saat itu.
Hari ini ujian terakhir, mata pelajaran yang diujikan pelajaran kejuruan, yaitu mengaplikasikan penyelenggaraan administrasi perkantoran. Aku mengerjakannya cukup mudah.

2. "ssst..sst put, putri sst no 12" berbisik teman sekelas kearah ku sambil menunjukan jarinya, seolah menunjukan kode nomor dua belas. Ia duduk sebaris dengan ku, hanya beda 2 meja saja. Ah, namanya anak SMA, hal seperti itu bukan hal yang aneh, jujur saja, kalian juga pasti pernah kan?

3. Tepat jam satu lewat lima belas menit. Aku sudah menjawab semua soal ujian, tinggal memeriksanya sekali lagi dan menunggu bel pulang. Tapi sebenarnya yang aku tunggu bukan itu, melainkan teman-teman ku. Apakah sudah selesai semua atau belum. Masuk sekolah bareng-bareng, naik kelas juga harus bareng-bareng, jangan pelit. Bukan aku meng-halal-kan mencontek, tidak sama sekali, tapi tidak semua teman mempunyai otak yang sama dengan kita kalo mereka butuh jawaban sekiranya 2 sampai 5 nomor apa salahnya kita kasih tahu, asal jangan semuanya aja keterlaluan namanya hehehe.

4. Krriiiingg... Bel sudah berbunyi. "Ya, semuanya dikumpulkan ya, tidak ada yang menulis lagi" ujar bu Yuliana, yang saat itu jadi pengawas diruang ujian ku. Aku dan semuanya pun keluar ruangan. Seperti biasa aku menunggu sahabat-sahabat ku keluar dulu dari ruangan.

Aku menunggu di depan kelas XI AP 2 yang letaknya tepat disebelah ruang guru lantai 2. Sekolah ku ini memang ukurannya kecil, tapi untuk prestasi dan kebersamaannya jangan ditanya...boleh diuji kalo yang satu ini mah. Aku duduk dibangku besi panjang warna hijau, memandang ke arah depan, angin berhembus menyibak rambut panjang ku yang sengaja aku urai.

5. Aku selalu pulang tepat waktu, tidak seperti anak-anak sma biasanya, yang pulang sekolah nongkrong dulu, asik berbagi cerita, tertawa lepas, aku tidak seperti itu. Bukan tidak bisa, sebenarnya bisa saja aku seperti teman ku yang lain, tapi lebih tepatnya aku tidak mau. Aku harus menjaga ibu dan adik ku yang masih SD.

Ibu ku sudah lama sakit, sakitnya sudah bertahun-tahun sejak aku SD. Terjadi sesuatu di otak ibu, pasokan darah ke otak terputus akibat adanya penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan ibu stroke permanen sebelah kiri, hingga saat ini. Tapi ibu tidak pernah mengeluh sakit. Ibu selalu bergantung dengan ku, jika tidak ada aku mungkin ibu tidak akan makan sampai aku ada dirumah.

6. Adik ku namanya Rama, masih kecil, aku belum percaya jika ku serahkan tanggung jawab ku untuk mengurus ibu kepadanya. Ayah ku, ayah ku sibuk bekerja, saat ini ayah sudah menikah lagi, tentu dengan restu ibu. Tapi bisakah kalian bayangkan bagaimana sakitnya seorang perempuan bila suaminya menikah lagi?. Ibuku, kurasa dia rapuh, namun dia sadar bahwa tidak bisa melayani suami yang dia cintai sepenuhnya, makanya ia terima dipoligami. Ibu ku seorang yang sangat hebat, meski Tuhan memberikan ia penyakit bertahun-tahun, ia tidak menghakimi dan menjauhiNya. Ia tetap menjalankan kewajiban seorang hamba kepada Penciptanya.

7. Kondisi ibu sekarang semakin serius. Ia sudah tidak bisa bicara, hanya matanya saja yang memberikan isyarat. Aku masih dalam posisi ku, duduk dibangku besi panjang warna hijau, masih menunggu sahabat ku. "put yuk, balik gue udah rapi nih." ajak Lia kepada ku
"yuk, eh ya (lia), nada, ifa, ami, arum mana?."
"Put, Lia..tunggu"
"nah itu mereka."

8. Aku pun bersama 5 sahabat ku jalan kearah tangga, untuk pulang. Baru sampai ruang guru, handphone ku berdering
"tunggu..tunggu hape gue bunyi," kata ku kepada mereka semua, ternyata Ayah ku yang menelpon.
"Assalamu'alaikum yah, kenapa yah?"
"Put, putri masih disekolah? putri yang sabar ya, sekarang putri cepat pulang kerumah."
"Ada apa yah, kenapa?" jawab ku dengan panik, ada apa ini, apa ada hubungannya dengan ibu? semoga ibu tidak kenapa-kenapa.
"Ibu put, ibu udah gak ada, sekarang kita ke parung ya, buat kubur jenazah ibu, semoga keburu buat temuin ibu yang terakhir."
"Ibu....., ya allah ibu, innalillahi ibuuuu..ibuuuu." aku hanya bisa menangis.

Rasanya hati ku remuk mendengar kabar ini, kenapa harus di sekolah, kenapa ibu menghembuskan nafas terakhirnya tidak di pangkuan ku?. kenapa secepat ini...Ibuuuuu. Aku masih tidak percaya. Ya Allah, aku gak kuat tanpa ibu.

9. Melihat ku menangis, teman-temanku langsung memeluk ku dan mengusap air mata ku yang terus-terusan mengalir dari tadi. Ditempat ku berdiri jadi ramai, sampai bu yuliana datang dan menanyakan.
"ada apa ini, putri kamu kenapa nangis." kata bu yuliana, aku tidak menjawab, aku hanya bisa menangis.
"Ibunya putri meninggal bu, baru aja tadi." jawab ami,
"innalillahi, putri ibu turut berduka cita ya nak." bu yuliana langsung memeluk ku dan mengusap kepala ku, aku menangis sejadi-jadinya dipeluk bu yuliana, rasanya aku ingin cepat-cepat memeluk ibu untuk yang terakhir.
"yasudah ami, tolong carikan teman yang bawa motor ya, antarkan putri pulang sampai rumah, ibu menyusul"
"iya bu."

10. Saat ini aku sudah dirumah, aku semakin tak kuasa menahan tangis ketika melihat ayah ku. Aku berlari memeluk ayah, dan adik ku rama. Terlihat ayah sedang sibuk untuk mengabarkan keluarganya dan menyiapkan mobil untuk kami pergi ke parung, tempat dimana ibu akan disemayamkan. Dunia ku seakan runtuh, aku tidak percaya ibu pergi secepat ini. Tidak ada satu jam setelah aku sampai dirumah, aku langsung berangkat menuju parung.

Sahabat memang selalu rela meluangkan waktunya untuk sahabatnya. Lia yang kemudian ikut dengan ku ke parung. Aku mengerti, memang hanya lia yang mempunyai waktu banyak.Aku sudah sampai di parung pukul setengah lima sore, aku turun dari mobil dan berharap bisa bertemu ibu, mencium keningnya, memeluknya. Dan aku ingin minta maaf ke ibu, karna bukan aku yang ada disisinya saat malaikat maut mencabut ruhnya.

Kenyataan memang tidak selalu sesuai dengan harapan. Kata tanteku, Ibu sudah dikubur setengah jam sebelum kami sampai, tepatnya selepas ashar. Lia terus berada didekat ku, dia tidak jauh-jauh, matanya seolah merasa bersalah jika dikeadaan yang rapuh dia tidak ada disisiku

Untuk perempuan yang hatinya sekuat karang,
tangannya yang selalu menghadirkan pelukan-pelukan hangat,
wajahnya yang selalu mengalahkan lelah,
ingat lah, tidak akan ku lupa menyebut nama mu disujud terakhir ku.

Kini nama ibu sudah terbingkai di batu nisan. Aku sudah ikhlas, "bu, aku pulang dulu, aku bakal jaga rama dan ayah, ibu baik-baik disini. Aku pasti akan sering menjenguk ibu, kalau kedinginan, mampirlah kerumah, selimut mu selalu aku pakai." ujar ku kepada nisan yang bertuliskan nama ibu.

aku akan berjalan, berjuang tanpa dan untukmu, ibu.

(Puisi) Aku Bagai Selembar Daun Kering

Aku bagai selembar daun kering.
Gugur pada musimnya, tak terpakai.
Terhempas ribuan angin.
Lari ke seluruh penjuru keabadian.
Mencari Dia yang dapat membawa ku pulang.

Aku bagai selembar daun kering
Gugur pada musimnya, jatuh terbengkalai.
Bersama rumput-rumput yang basah dan tanah merah.
Terinjak lagi tersapu.
Tak ternilai,
Terbakar menjadi abu.

Aku bagai selembar daun kering.
Gugur pada musimnya, haus mencari.
Mencari setetes air.
Tak bisa aku kembali hijau,
Telah kering terpotong-potong

Aku bagai selembar daun kering.
gugur pada musimnya,


tertulis tak berarti, bersama ratusan memori
puisi by nurul khotimah